Kisah Steven: Radang Usus Akibat Makanan dan Begadang


IBD (Inflammatory Bowel Disease) atau yang dikenal sebagai radang usus kronis merupakan penyakit peradangan yang terjadi pada usus halus atau usus besar. Penyakit ini sering dikaitkan dengan pola makan yang tidak sehat, yang menjadi salah satu faktor pemicu utama munculnya gejala.

Steven Tafianoto Wong (23 tahun) awalnya tidak mengenal IBD. Ketika berusia 16 tahun, ia merasa bingung setelah dokter menegakkan diagnosis radang usus. Pada awalnya, ia sering mengunjungi dokter karena keluhan kesehatan yang tidak jelas. Dokter awalnya mengira itu tifus atau infeksi virus. Akhirnya, orangtuanya membawanya ke Malaysia dan baru mengetahui bahwa Steven menderita IBD.

“Saya bolak-balik ke dokter, tapi tidak jelas penyakitnya. Akhirnya orangtua membawa saya ke Malaysia dan baru ketahuan kalau saya sakit IBD,” ujar Steven saat hadir dalam acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Gastroenterologi Indonesia di Jakarta (9/12/2025).

Steven mengalami berbagai gejala seperti nyeri dan kram perut, diare, rasa lelah, serta penurunan berat badan drastis hingga 20 kilogram. Sebelum sakit, ia memiliki pola makan yang buruk, sering mengonsumsi junkfood dan tidak pernah makan sayur atau buah. Pola tidurnya juga tidak teratur, bahkan sering begadang hingga jam 3 pagi untuk bermain game.

“Saya tidak pernah makan sayur dan buah, makan apa saja yang ingin saya makan, sehingga berat badan saat itu mencapai 75 kilogram,” ujarnya.

Gejala umum dari IBD meliputi diare, nyeri perut, penurunan berat badan tanpa sebab, demam, mudah lelah, hingga BAB berdarah. Penyakit ini bisa memengaruhi kualitas hidup penderitanya secara signifikan jika tidak segera ditangani.

Mengenal Penyebab IBD

Menurut Prof. Ari Fahrial Syam Sp.PD-K-GEH, ada dua jenis utama IBD, yaitu ulcerative colitis dan Crohn disease. Di Indonesia, ulcerative colitis lebih umum ditemukan, sedangkan Crohn disease meskipun lebih jarang tetapi tetap perlu diwaspadai karena dapat menyerang seluruh saluran cerna.

Penyebab IBD sangat beragam, mulai dari faktor genetik, lingkungan, stres, hingga pola makan. Pola makan yang tinggi gula, tinggi kalori, dan rendah serat, serta makanan yang sering diawetkan, dapat memicu peradangan pada usus.

“Pola makan yang tidak sehat juga dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus, yang berdampak pada berbagai penyakit, termasuk IBD,” jelas Prof. Ari.

Selain itu, respons imun tubuh yang terlalu aktif juga bisa menyebabkan peradangan pada usus. “IBD bisa disebut sebagai autoimun lokal, karena tubuh terus menyerang usus sendiri, sehingga terjadi peradangan,” tambahnya.

Faktor lain yang bisa memperburuk kondisi IBD antara lain kebiasaan merokok, konsumsi obat tertentu, dan stres yang tidak terkontrol.

Pemeriksaan yang Diperlukan

Penyakit IBD masih kurang dikenal di masyarakat. Gejalanya sering mirip dengan penyakit pencernaan ringan, sehingga banyak pasien menganggapnya tidak serius.

“Banyak orang mengira hanya sakit maag biasa, atau perdarahan saat BAB dianggap ambien. Perlu diingat, jika gejala ini terjadi berulang kali atau cukup lama, segera periksakan ke dokter,” kata Prof. Ari.

Untuk menegakkan diagnosis IBD, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, mulai dari pemeriksaan fisik, laboratorium, hingga kolonoskopi (teropong usus). Namun, tantangan dalam penanganan IBD di Indonesia masih besar, terutama terbatasnya dokter spesialis gastroenterologi dan alat pemeriksaan kolonoskopi di daerah.

Pengobatan IBD

Pilihan pengobatan IBD tergantung pada tingkat keparahan penyakit. Untuk kasus ringan, pengobatan bisa dilakukan dengan obat oral dan pengaturan pola makan. Namun, untuk kasus berat seperti yang dialami Steven, tersedia pilihan obat biologis.

Steven menjalani pengobatan sejak didiagnosis IBD. “Saya sudah mencoba semua obat, mulai dari yang oral, infus, dan sekarang obat biologis yang injeksi. Ini yang paling ampuh buat saya,” katanya.

Proses pemulihan membutuhkan waktu satu tahun. Menurut Steven, masa ini paling berat karena ia harus mengubah gaya hidup sepenuhnya. “Setahun pertama itu prosesnya sulit karena harus menjaga pola makan, tidak begadang, olahraga walau ringan, dan menjaga pikiran,” ujarnya.

Saat ini, penyakit IBD Steven dalam kondisi remisi. Ia mengaku beruntung karena penyakitnya cepat tertolong dan mendapat pengobatan yang tepat. Sebab, IBD adalah penyakit progresif yang bisa semakin berat dan mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org