Pembuat Genteng di Belo Laut Bangka Barat Beralih ke Bata Merah

Pembuat Genteng di Belo Laut Bangka Barat Beralih ke Bata Merah

Keberlanjutan Usaha Bata Merah di Desa Belo Laut

Di bawah terik matahari siang, Suroto (50) tekun mencetak bata merah satu per satu di bawah pondok beratap daun rumbia, Kamis (12/2/2026). Dengan kaus sederhana dan celana pendek, tangannya cekatan mengolah tanah liat yang menumpuk di belakang pondok: diaduk, ditumpuk, dicetak, dijemur hingga dibakar menggunakan kayu api. Sang istri setia membantu di sisi lain, memastikan produksi berjalan lancar.

Usaha bata merah yang digelutinya selama 20 tahun menjadi saksi ketekunan dan perjuangan hidupnya di Dusun III, Desa Belo Laut, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Setiap hari, Suroto mencetak sekitar 1.000 bata merah berukuran 20×10 cm dan 800 batako.

“Sekarang usaha saya fokus pada bata merah dan batako. Genteng sudah tidak lagi diproduksi karena peminat menurun,” ujarnya. Menurut Suroto, genteng membutuhkan banyak bahan pendukung seperti kayu dan reng sehingga biaya pemasangan tinggi. Sementara atap asbes lebih praktis, cepat dipasang, dan lebih hemat.

Dulu, genteng yang ia produksi dijual Rp 2.000 per biji. Saat ini, bata merah dan batako dihargai Rp 2.200 per biji, meski bahan dan proses pembuatannya relatif sama. “Bahan tetap tanah liat, cuma cetakan dan cara membuatnya berbeda. Sekarang hanya fokus bata merah dan batako, pembelinya memang kurang,” katanya.

Suroto berharap usaha kecil seperti miliknya tetap bertahan agar warga sekitar tetap memiliki peluang kerja. Ia juga menyoroti tingginya angka pengangguran, terutama di kalangan anak muda, karena lapangan pekerjaan terbatas. “Harapan saya ada program gentengisasi untuk membantu masyarakat. Banyak anak muda ingin ikut bekerja, tapi mencari pekerjaan susah,” keluhnya.

Dukungan dari Pemerintah Desa

Dukungan serupa datang dari Pemerintah Desa Belo Laut. Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Suhaidir atau Kojek, menegaskan pemerintah desa mendukung program gentengisasi, yang menurutnya bagian dari kebijakan pemerintah pusat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Dulu banyak pabrik atau usaha genteng di Desa Belo Laut. Sekarang sebagian hanya bertahan dengan bata merah dan batako karena operasional dan daya beli masyarakat menurun. Sebagian beralih ke asbes dan seng,” kata Kojek.

Ia menyebut saat ini masih ada tiga hingga empat lokasi produksi bata merah dan batako yang tetap beroperasi. Kojek meyakini produksi genteng tetap memiliki peluang dikembangkan jika ada program pemberdayaan pemerintah yang diterapkan secara luas. “Kami mendukung gentengisasi. Jika ada pengusaha atau perusahaan yang memproduksi genteng lagi, yang penting bisa mengakomodir biaya dan mengurangi pengangguran di Desa Belo Laut,” tutupnya.

Penilaian Budaya atas Gagasan Gentengisasi

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Belitung sekaligus pemerhati budaya setempat, Wahyu Kurniawan, menyoroti wacana gentengnisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Menurut Wahyu, gagasan itu positif, namun harus memperhatikan aspek budaya dan regulasi lokal. “Gagasan Presiden bagus, tapi dalam praktiknya harus tetap memperhatikan Undang-Undang Kebudayaan,” ujarnya.

Ia menambahkan, setiap daerah memiliki ciri khas arsitektur tradisional. Belitung memiliki Perda Bangunan Gedung yang menekankan kekhasan arsitektur lokal. “Sejarah mencatat bangunan beratap genteng baru muncul abad ke-20, terutama pada bangunan kolonial dan beberapa rumah bangsawan dari Palembang. Secara budaya, genteng bukan tradisi lokal,” jelasnya.

Karena itu, Wahyu menilai gentengnisasi sebaiknya dimulai dari bangunan milik pemerintah, bukan langsung diterapkan ke seluruh masyarakat. “Kalau dipaksakan, tidak membudaya. Teknik pembangunan rumah dengan genteng belum dikenal di sini, masyarakat harus belajar dulu,” tegasnya.

Penerapan pada gedung pemerintah dengan jejak kolonial, seperti kantor dinas atau bangunan nasional, dinilai bisa menjadi contoh dan inspirasi. Selain budaya, ia menyoroti ketersediaan dan harga material. Genteng belum diproduksi secara luas di Belitung, sehingga harga berpotensi meningkat. “Waktu pemugaran museum, harga genteng mahal karena harus membeli dari luar daerah,” ujarnya.

Meski begitu, Wahyu melihat potensi produksi lokal jika material dikembangkan, mengingat Belitung memiliki bahan baku bata merah, meski perlu kajian kesesuaian tanah liat. Genteng juga memiliki daya tahan tinggi. Ia mencontohkan atap Museum Tanjungpandan di Belitung yang dibangun 1910; gentengnya masih utuh hingga 2026, meski sebagian diganti untuk presisi. “Genteng asli masih ada, terlihat dari tulisan Tan Liok Tiaw Batavia Java dan Fabriek Tan Liok Tiaw Tangerang. Hanya warnanya berubah karena lumut, tapi fisiknya tetap kokoh. Belitung tidak pernah memproduksi genteng sendiri; semua berasal dari Tangerang, atap perabong dari Palembang,” jelasnya.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org