Lanjutkan Arahan Sri Sultan, PWI DIY Gelar FGD Pembangunan Grha Pers Pancasila

Lanjutkan Arahan Sri Sultan, PWI DIY Gelar FGD Pembangunan Grha Pers Pancasila

Grha Pers Pancasila: Langkah Strategis untuk Memperkuat Nilai-Nilai Kebangsaan

Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah melakukan langkah cepat dalam merealisasikan pembangunan Grha Pers Pancasila sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X beberapa waktu lalu. Untuk mewujudkan rencana ini, PWI DIY menggelar Focus Group Discussion (FGD) penyusunan Naskah Akademik Pembangunan Grha Pers Pancasila (GPP) di Yayasan Asram Foundation, Sleman, pada Kamis (12/2/2026) siang.

FGD ini menjadi tindak lanjut atas arahan dari Sri Sultan sekaligus menjadi langkah strategis untuk memperkuat gagasan Yogyakarta sebagai pusat pengkajian dan pengembangan Pers Pancasila di Indonesia. Acara ini dibuka oleh Ketua PWI DIY, Drs Hudono SH, dan dihadiri oleh pengurus harian, Dewan Penasehat, Dewan Pakar PWI DIY, sejumlah akademisi, serta perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY.

Beberapa tokoh penting hadir sebagai pemateri dalam FGD ini, antara lain Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Sudjito; Rektor Universitas Widya Mataram (UWM), Prof Dr Edy Suandi Hamid MEc; Rektor Universitas Amikom Yogyakarta, Prof Dr Mohammad Suyanto; dan Rektor Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa, Prof Dr Pardimin. Selain itu, turut hadir pula Dr Drs Mukijab (dosen Komunikasi UWM), Ki Bambang Widodo SPd MPd (anggota Dewan Penasehat), serta sejumlah pengurus PWI DIY dan perwakilan Dinas Kominfo DIY.

Pentingnya Naskah Akademik dalam Pembangunan Grha Pers Pancasila

Dalam paparannya, Prof Sudjito menegaskan bahwa naskah akademik merupakan fondasi konseptual dalam pembangunan Grha Pers Pancasila. Menurutnya, GPP bukan hanya sekadar pembangunan fisik gedung, melainkan bagian dari strategi membangun ekosistem pers yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.

“Grha Pers Pancasila harus menjadi wadah pengembangan Pers Pancasila ke depan. Nilai-nilai Pancasila perlu diimplementasikan secara nyata dalam praktik pers, baik dalam pemberitaan, etika, maupun tanggung jawab sosial,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa naskah akademik harus mencakup landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis secara komprehensif. Dalam kajian awal yang telah disusunnya, DIY dinilai layak menjadi lokasi pembangunan GPP karena memiliki modal historis, akademik, dan kultural yang kuat. Namun, melalui FGD tersebut ia berharap memperoleh masukan dan evaluasi guna menyempurnakan naskah akademik.

“Masukan-masukan dari FGD ini akan saya masukkan ke dalam kajian akademik agar lebih sempurna lagi,” katanya.

Pandangan Historis dan Potensi GPP sebagai Pusat Literasi Media

Pandangan historis disampaikan oleh Pemimpin Redaksi Kedaulatan Rakyat sekaligus mantan Ketua PWI DIY, Dr Octo Lampito. Ia mengingatkan bahwa PWI memang lahir di Surakarta karena saat itu Yogyakarta tengah bergejolak memperjuangkan kemerdekaan. Namun Yogyakarta memiliki koran tertua yang masih terbit hingga kini, yakni Kedaulatan Rakyat.

“Keberadaan Grha Pers Pancasila akan memperkokoh Yogyakarta sebagai kota perjuangan. Sejarah pers dan sejarah perjuangan bangsa tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.

Menurut Octo, GPP berpotensi menjadi pusat literasi media sekaligus laboratorium pers. Sebagai kota pelajar, Yogyakarta memiliki modal sosial dan akademik untuk mengembangkan pendidikan serta kajian Pers Pancasila. Mahasiswa dapat dilibatkan dalam kunjungan, riset, maupun praktik jurnalistik berbasis nilai kebangsaan. Bahkan, GPP dapat dikembangkan sebagai destinasi edukasi dan wisata sejarah pers.

Relevansi Yogyakarta sebagai Pusat Pendidikan Pers Pancasila

Prof Edy Suandi Hamid menilai posisi Yogyakarta sebagai kota budaya dan pendidikan sangat relevan untuk menjadi pusat pendidikan Pers Pancasila. Tradisi dialog publik yang sehat di DIY dinilai menjadi modal penting dalam membangun ekosistem pers yang beretika dan bertanggung jawab.

Ia juga menekankan pentingnya kelengkapan data pendukung dalam naskah akademik, termasuk status kepemilikan tanah dan dokumen administratif lainnya, guna memperkuat argumentasi pembangunan GPP.

“Dengan ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang kuat, sangat relevan jika Yogyakarta dikembangkan sebagai pusat pendidikan dan pengkajian Pers Pancasila,” tambahnya.

Tindak Lanjut dan Harapan PWI DIY

Ketua PWI DIY, Hudono, menyampaikan bahwa hasil FGD akan segera ditindaklanjuti. PWI DIY berencana melakukan audiensi dengan Ketua DPRD DIY untuk membahas dukungan terhadap rencana pembangunan GPP.

“Kami akan segera menindaklanjuti kegiatan hari ini dengan audiensi ke Ketua DPRD DIY. Saat ini kami masih menunggu jadwal karena agenda beliau cukup padat,” ujarnya.

Melalui FGD tersebut, PWI DIY berharap naskah akademik pembangunan Grha Pers Pancasila dapat segera dimatangkan, sehingga kehadiran GPP benar-benar menjadi tonggak penguatan peran pers dalam menjaga nilai-nilai Pancasila dan keutuhan bangsa.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org